Selama ini, sistem extended family di Indonesia sering dipandang sebagai benteng terakhir ketahanan sosial. Dalam narasi budaya, keluarga besar digambarkan sebagai ruang aman—tempat individu kembali ketika negara dan pasar gagal memberikan perlindungan. Namun, pandangan tersebut perlu dikaji ulang secara kritis.
Realitas sosial menunjukkan bahwa sistem extended family tidak selalu stabil. Dalam banyak kasus, ia justru menghadapi tekanan serius akibat perubahan ekonomi, sosial, dan budaya. Pertanyaannya bukan lagi apakah extended family kuat, melainkan: apakah ia mampu bertahan di tengah krisis modern yang semakin kompleks?
Extended Family sebagai Sistem Sosial Tradisional
Dalam kajian sosiologi keluarga, extended family dipahami sebagai jaringan kekerabatan yang melampaui keluarga inti dan mencakup berbagai generasi serta relasi horizontal (Wahjuni, 2016). Di Indonesia, sistem ini tumbuh dari nilai kolektivisme, gotong royong, dan solidaritas komunal.
Wiratri (2018) menegaskan bahwa konsep keluarga di Indonesia bersifat fleksibel dan tidak terbatas pada hubungan biologis semata. Hal ini menjadikan extended family sebagai sistem sosial yang adaptif terhadap berbagai situasi.Secara fungsional, extended family memiliki beberapa peran utama:
- Menyediakan dukungan ekonomi
- Menjadi sistem pengasuhan alternatif
- Memberikan dukungan emosional dan sosial
Modernisasi: Awal dari Disrupsi
Namun, modernisasi telah mengubah lanskap keluarga secara fundamental. Urbanisasi, industrialisasi, dan globalisasi menciptakan pola hidup baru yang tidak selalu kompatibel dengan sistem keluarga tradisional.
Herawati et al. (2020) menunjukkan bahwa fungsi keluarga sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan akses terhadap sumber daya. Ketika tekanan ekonomi meningkat, kemampuan keluarga dalam menjalankan fungsinya menjadi terganggu.Beberapa perubahan signifikan yang terjadi antara lain:
- Meningkatnya dominasi keluarga inti
- Menurunnya intensitas interaksi antar anggota keluarga besar
- Tingginya mobilitas geografis
Krisis dalam Extended Family: Realitas yang Diabaikan
Ada kecenderungan dalam masyarakat untuk mengidealkan keluarga besar tanpa melihat potensi krisis di dalamnya. Padahal, extended family tidak kebal terhadap konflik.
Beberapa bentuk krisis yang sering muncul meliputi:Krisis Ekonomi Internal
Tidak semua anggota keluarga memiliki kapasitas ekonomi yang sama. Ketimpangan ini sering menimbulkan ketegangan, terutama ketika ada ekspektasi untuk saling membantu secara finansial.
Septiyanto et al. (2024) menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dapat memperburuk relasi keluarga dan memicu konflik berkepanjangan.Ketergantungan Sosial
Extended family sering menciptakan pola ketergantungan, di mana individu tidak sepenuhnya mandiri. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menghambat mobilitas sosial.Konflik Nilai Antar Generasi
Generasi tua cenderung mempertahankan nilai kolektivisme, sementara generasi muda lebih mengedepankan individualisme. Benturan ini menjadi sumber konflik yang signifikan.
Distribusi Beban yang Tidak Adil
Tidak jarang, tanggung jawab dalam keluarga besar hanya dipikul oleh beberapa anggota saja, sementara yang lain menjadi penerima manfaat.
Pandemi dan Pembuktian Ketahanan
Krisis global seperti pandemi COVID-19 menjadi ujian nyata bagi sistem extended family. Dalam kondisi ini, keluarga besar kembali memainkan peran penting sebagai jaringan pengaman sosial.
Megawanty (2021) menemukan bahwa keluarga dengan jaringan sosial yang kuat cenderung lebih mampu bertahan dalam situasi krisis. Extended family memungkinkan adanya:- Berbagi sumber daya
- Dukungan emosional kolektif
- Adaptasi bersama
Ambivalensi Extended Family: Kekuatan Sekaligus Kelemahan
Extended family memiliki sifat ambivalen—ia bisa menjadi solusi sekaligus sumber masalah.
Sebagai kekuatan:
- Menyediakan perlindungan sosial informal
- Memperkuat solidaritas
- Menjadi sumber identitas sosial
- Rentan konflik internal
- Menciptakan beban ekonomi
- Menghambat kemandirian individu
Adaptasi: Syarat Mutlak untuk Bertahan
Agar tetap relevan, extended family harus beradaptasi dengan perubahan zaman. Beberapa bentuk adaptasi yang mulai terlihat antara lain:
- Digitalisasi Relasi Keluarga, komunikasi dilakukan melalui platform digital, menggantikan interaksi langsung.
- Redefinisi Kewajiban Keluarga, bantuan tidak lagi bersifat mutlak, tetapi disesuaikan dengan kemampuan individu.
- Pembagian Peran yang Lebih Rasional, tanggung jawab keluarga didistribusikan secara lebih adil.
Masa Depan Extended Family di Indonesia
Extended family tidak akan hilang, tetapi akan berubah bentuk. Masa depan sistem ini kemungkinan berada di antara dua kutub. Keluarga inti yang mandiri dan keluarga besar yang terhubung secara fleksibel. Model hibrida ini memungkinkan adanya keseimbangan antara nilai tradisional dan tuntutan modern.
Kesimpulan: Krisis sebagai Titik Balik
Sistem extended family di Indonesia memang sedang menghadapi krisis. Namun krisis ini bukanlah akhir, melainkan titik balik.Extended family masih memiliki potensi besar sebagai sistem ketahanan sosial. Namun, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan jika ada:
- Transformasi nilai
- Penyesuaian struktur
- Kesadaran kolektif untuk berubah
Daftar Pustaka
Herawati, T., et al. (2020). Faktor-faktor yang memengaruhi pelaksanaan fungsi keluarga. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen.
Megawanty, R. (2021). Ketahanan keluarga dalam menghadapi pandemi COVID-19. Jurnal Lemhannas.Septiyanto, D., et al. (2024). Strategi ketahanan keluarga dalam krisis ekonomi. Syntax Literate Journal.
Wahjuni, E. (2016). Konstruksi sosial keluarga besar terhadap tumbuh kembang anak. Jurnal Aristo.
Wiratri, A. (2018). Menilik ulang arti keluarga pada masyarakat Indonesia. Jurnal Kependudukan Indonesia.
