Barangkali masalah filantropi kita bukan karena masyarakat tidak mau berbagi, tetapi karena kita terlalu sering membuat kebaikan terlihat mahal.
Ketika berbicara tentang filantropi Islam, sebagian orang mungkin langsung membayangkan donasi dalam jumlah besar, program sosial berskala besar, atau orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi berlebih.
Padahal, filantropi tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Sedekah bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana. Bahkan dari uang Rp1.000 atau Rp2.000 yang kita sisihkan dengan ikhlas.
Persoalannya bukan semata-mata tentang berapa besar yang kita berikan, tetapi bagaimana kita membangun budaya berbagi yang mudah dilakukan, konsisten, dan memberikan manfaat.
Sedekah Bukan Hak Eksklusif Orang Kaya
Ada anggapan yang secara tidak sadar berkembang di masyarakat bahwa semakin banyak seseorang memiliki harta, semakin besar pula kemampuannya untuk bersedekah.
Anggapan tersebut memang tidak sepenuhnya salah. Orang yang memiliki kemampuan ekonomi lebih besar tentu memiliki ruang yang lebih luas untuk memberikan kontribusi.
Namun, jika pemahaman tersebut membuat masyarakat berpenghasilan kecil merasa tidak memiliki kesempatan untuk berbuat baik, maka ada sesuatu yang perlu kita luruskan.
Sedekah bukan hak eksklusif orang kaya. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berbagi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Seseorang mungkin hanya mampu memberikan Rp1.000. Orang lain mungkin Rp10.000. Ada pula yang mampu memberikan jutaan rupiah.
Semua memiliki nilai ketika diberikan dengan niat yang baik dan dikelola untuk memberikan manfaat.
Karena itu, jangan sampai nominal menjadi penghalang seseorang untuk memulai kebaikan.
Kebaikan yang Kecil Jika Dilakukan Bersama Bisa Menjadi Besar
Kita sering meremehkan kontribusi kecil. Rp1.000 terlihat sangat kecil jika dilihat secara individual. Tetapi bagaimana jika seribu orang melakukan hal yang sama?
Nilainya menjadi Rp1 juta. Bagaimana jika dilakukan oleh sepuluh ribu orang? Menjadi Rp10 juta.
Dari sini kita dapat melihat bahwa kekuatan filantropi tidak hanya terletak pada besarnya kontribusi individu, tetapi juga pada partisipasi kolektif masyarakat.
Inilah mengapa membangun budaya sedekah menjadi penting. Kita tidak selalu membutuhkan segelintir orang yang mampu memberikan donasi dalam jumlah besar. Kita juga membutuhkan masyarakat luas yang terbiasa berbagi sesuai dengan kemampuannya.
Sebab ketika kebaikan dilakukan secara bersama dan konsisten, kontribusi kecil dapat berubah menjadi kekuatan sosial yang besar.
Membuat Sedekah Lebih Mudah dan Dekat
Tantangan lain dalam membangun budaya filantropi adalah akses. Masyarakat akan lebih mudah berbagi ketika tersedia ruang yang sederhana dan dekat dengan kehidupan mereka.
Kotak sedekah di warung makan, misalnya, merupakan contoh kecil bagaimana filantropi dapat hadir dalam aktivitas sehari-hari.
Seseorang datang membeli makanan. Ia melakukan transaksi. Sebelum meninggalkan tempat, ia melihat kotak sedekah dan memasukkan sebagian kecil uang yang dimilikinya.
Tidak ada prosedur yang rumit. Tidak membutuhkan waktu yang panjang. Kebaikan dapat dilakukan dalam hitungan detik.
Model seperti ini menunjukkan bahwa filantropi seharusnya dibuat semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, bukan menjadi sesuatu yang terasa jauh dan eksklusif.
Dari Transaksi Ekonomi Menjadi Transaksi Kebaikan
Menariknya, ruang-ruang ekonomi sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari ekosistem filantropi.
Warung makan, toko, minimarket, kedai kopi, pasar, hingga berbagai jenis UMKM dapat menjadi titik akses bagi masyarakat untuk berbagi.
Tentu dengan satu catatan penting: pengelolaannya harus jelas, amanah, dan transparan. Pemilik usaha tidak harus menjadi pengelola dana sosial. Mereka dapat berperan sebagai fasilitator yang menyediakan ruang bagi lembaga atau komunitas sosial yang kredibel untuk menjangkau lebih banyak masyarakat.
Dengan demikian, aktivitas ekonomi dan aktivitas sosial dapat berjalan berdampingan. Orang datang untuk membeli. Orang pulang dengan membawa barang yang dibutuhkan.
Tetapi di saat yang sama, mereka juga memiliki kesempatan untuk meninggalkan sebagian kecil rezekinya bagi orang lain yang membutuhkan.
Bukankah itu bentuk sederhana dari ekonomi yang memiliki nilai kemanusiaan?
Filantropi Membutuhkan Kemudahan, Bukan Kerumitan
Jika kita ingin memperluas praktik ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf), maka salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana membuat masyarakat mudah untuk berpartisipasi.
Jangan membuat orang merasa bahwa untuk bersedekah mereka harus menunggu memiliki uang banyak. Jangan pula membuat proses kebaikan menjadi terlalu rumit. Berikan banyak pilihan. Buat akses yang sederhana. Sediakan informasi yang jelas. Pastikan pengelolaannya transparan. Dan yang paling penting, bangun kepercayaan.
Ketika masyarakat merasa bahwa kontribusi mereka benar-benar dikelola dengan baik, maka keinginan untuk berbagi akan semakin tumbuh.
Dari Budaya Memberi Menuju Budaya Peduli
Filantropi pada akhirnya bukan hanya persoalan menghimpun dana. Lebih jauh dari itu, filantropi adalah tentang membangun kepedulian sosial.
Ketika seseorang terbiasa menyisihkan sebagian hartanya untuk orang lain, secara perlahan tumbuh kesadaran bahwa kehidupan tidak hanya tentang apa yang kita miliki.
Ada orang lain yang membutuhkan. Ada lingkungan yang harus diperhatikan. Ada masyarakat yang perlu diberdayakan. Dan ada tanggung jawab sosial yang tidak bisa kita abaikan.
Karena itu, membangun budaya sedekah sebenarnya juga berarti membangun masyarakat yang lebih empatik.
Masyarakat yang tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?”, tetapi juga mulai bertanya, “Apa yang bisa saya berikan?”
Jangan Menunggu Kaya untuk Berbuat Baik
Pada akhirnya, kita tidak pernah tahu berapa banyak waktu dan kesempatan yang diberikan kepada kita. Karena itu, jangan menunggu kaya untuk berbagi.
Jangan menunggu memiliki banyak untuk peduli. Jangan menunggu sukses untuk memberikan manfaat. Mulailah dari apa yang kita punya. Jika memiliki uang, sisihkan sebagian. Jika memiliki ilmu, bagikan. Jika memiliki tenaga, gunakan untuk membantu. Jika memiliki jaringan, gunakan untuk menghubungkan kebaikan. Sebab filantropi memiliki banyak wajah dan bentuk.
Kebaikan tidak selalu harus besar. Yang penting adalah dilakukan dengan ikhlas, konsisten, amanah, dan memberikan manfaat.
Mungkin bagi kita Rp1.000 hanyalah uang kecil. Tetapi bagi sebuah gerakan sosial yang dilakukan bersama-sama, kontribusi kecil itu bisa menjadi bagian dari perubahan yang besar.
Maka, sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap sedekah.
Jangan menunggu kaya untuk berbuat baik. Sebab kebaikan bukan tentang seberapa banyak yang kita punya, tetapi seberapa banyak manfaat yang mampu kita berikan.
— Irfan Faisal Hadi, S.E., M.M.
